Kamis, 15 Oktober 2009
Koperasi dan UMKM Sebagai modal awal menjadi Pusat Peradaban dan Jembatan Hubungan Antar Bangsa
PILIH MENTERI YG MEMPUNYAI KAPASITAS BUKAN PILIH MENTERI KARENA POPULARITAS

Beliau adalah salah satu Calon menteri KABINET INDONESIA BERSATU jilid II...
Pria kelahiran di Bandung 47 tahun yang lalu di besarkan dalam keluarga yang sederhana yaitu keluarga pendidik sehingga Pria lulusan UI pada jurusan Teknik Metalurgi ini mendedikasikan waktu mahasiswanya menjadi Aktivis Koperasi sehingga beliau mengimplimentasikan ilmu tentang koperasi itu dengan Ikut membangun berbagai koperasi mahasiswa di berbagai kampus dan ikut membesarkan Koperasi Tranportasi Non operator pertama di indonesia di jakarta dan juga membangun beberapa Koperasi Transportasi di berbagai daerah di Indonesia setelah merasa masih perlu untuk meningkatkan kapasitas dalam dirinya beliau mengambil Magister Management di Prasetya Mulya...di Jakarta juga...dia memang cinta Indonesia...
Dalam masa repormasi beliau juga ikut andil dalam dunia pergerakan mahasiswa tahun 98. sehingga pada masa tahun 98 beliau di kenal dengan panggilan Kang Agus karena beliau berasal dari Bandung padahal pria ini tidak lah murni bandung karena di darah mengalir dari beberapa daerah seperti darah aceh, jawa, sunda sudah pasti.
Memang kalo kita bicara dalam dunia politik beliau tidak secemerlang teman2 seangkatannya karena kang Agus ini sudah mengambil keputusan tidak ikut dalam dunia politik praktis tetapi lebih ikut terjun langsung dalam dunia profesional dan bergiat di dunia kemasyarakatan, dan membuat kerja nyata seperti membuat peluang2 kerja di masyarakat, memberdayakan masyarakat sehingga masyarakat dapat mandiri dan yang pasti Wakil Ketua Alumni FT UI ini sering juga diminta untuk membantu teman2 nya sebagai konsultan Politik. dan ikut juga membantu dalam penanganan masalah pengamanan yang bekerja sama dengan negara2 tetangga seperti Singapura, malaysia, Philipina...
Direktur Executive di yayasan Puter membuat beliau ikut juga membantu menebus dan membangun Kembali Aceh dari keterpurukan setelah di landa musibah Tsunami...
Pengalaman yang sangat beragam membuat Direktur Utama Indosolution ini sering menulis di web Selamatkan Indonesia, dan juga ikut memberikan solusi untuk dunia profesional, Negara serta masyarakat... kang Agus pernah berkata, Koperasi dan UMKM Sebagai modal awal menjadi Pusat Peradaban dan Jembatan Hubungan Antar Bangsa
Salam
Perjuangan
Minggu, 14 Juni 2009
CAPITA SELECTA KAMMI
Fahri Hamzah
Deklarator dan ketua KAMMI 98
Jumat, 15 Mei 2009
MENGAMBIL PELAJARAN PADA MUHAMMAD AL FATIH DALAM PENAKLUKAN KONSTANTINOPEL
| Category: | Other |
"Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin pasukan pada saat itu dan sebaik baik pasukan adalah pasukan pada saat itu."
Konstantinopel merupakan kota terpenting di dunia, kota yang sekaligus benteng ini dibangun pada tahun 330 M. oleh Kaisar Byzantium yaitu Constantine I. Konstaninopel memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia. Sejak didirikannya, pemerintahan Byzantium telah menjadikannya sebagai ibukota pemerintahan Byzantium. Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Di samping itu, dari daratan juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah sampai Tanduk Emas. Memiliki satu menara dengan ketinggian 60 kaki, benteng setinggi 60 kaki sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian 25 kaki, selain tower-tower pemantau yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas. Dari segi kekuatan militer, kota ini dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar pengaman, benteng-benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. dengan demikian, maka sangat sulit untuk bisa diserang atau ditaklukkan. Kedudukan Konstantinopel yang strategis diillustrasikan oleh Napoleon Bonaparte; ".....kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!".
Keseriusan para Sahabat, para Khalifah serta para Sulthan dalam menaklukkan Konstantinopel. Ketika para sahabat mendengar langsung dari bibir mulia Rasulullah Muhammad SAW pada saat perang Khandaq tentang akan ditaklukkannya Kota Konstantinopel seperti tertera pada nukilan hadits diatas, para Sahabat mafhum, merasa sangat bersemangat dan kemudian berlomba-lomba dengan diiringi gemuruh kerinduan yang ada pada dada-dada mereka bersegera merealisasikan janji Allah dan RasulNya untuk mengambil bagian dalam upayanya menaklukkan Konstantinopel. Sebagai salah satu bukti adalah Syahidnya salah seorang Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abu Ayyub Al Anshori (ridho Allah senantiasa menyertainya) dipinggir kota Konstantinopel pada masa pemerintahan Khalifah Muawwiyah bin Abi Sofyan dalam rangka menaklukkan benteng sekaligus kota terkuat, yang konon sangat sulit untuk ditaklukkan oleh negara manapun di dunia saat itu.
Adalah Sahabat mulia Abu Ayyub Al Anshori R.A."peletak batu pertama" pada proyek agung penaklukkan kota Konstantinopel yang dikomandoi Khalifah Muawwiyah bin Abi Sofyan pada tahun 44.H meski serangan pertama ini belum berhasil tapi karena kecerdasan dan kecerdikan wasiat terakhir Abu Ayyub Al Anshori yang terluka parah saat itu kepada panglima Yazid bin Muawwiyah agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh dan dikebumikan dijantung kota Konstantinopel, menjadikan peristiwa ini menjadi salah satu inspirasi juga semangat yang membakar pasukan terbaik dengan di bawah kepemimpinan pemimpin terbaik
Sulthan Muhammad Al - Fatih dalam penaklukan terakhir Konstantinopel.
Oleh sebab itulah kekuatan Islam melalui futuhat akan selalu merambah ke sana, Serangan paling besar dilakukan di masa Bani Umayyah, yaitu masa kekhilafahan Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H sampai sampai besarnya jumlah pasukan Islam yang mengepung benteng Konstantinopel berlangsung berbulan bulan dan pasukan dalam kondisi kelaparan yang mengenaskan karena keinginan kuat sang khalifah dalam menaklukkan Konstantinopel. Usaha-usaha untuk menaklukkan Konstantinopel terus berlanjut, di masa khilafah Abbasiyah berlangsung Jihad yang demikian intensif untuk melawan pemerintahan Byzantium, namun demikian usaha ini belum sampai ke
Konstantinopel walaupun serangan itu telah menimbulkan gejolak di dalam negeri Byzantium, khususnya serangan yang dilakukan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 190 H. Setelah itu upaya penaklukan Konstantinopel dilanjutkan oleh Kesultanan Islam Saljuk di Asia Kecil; seperti Sulthan Alib Arsalan yang telah berhasil hanya dengan pasukan Islam sejumlah 15.000 mengalahkan tentara Romawi dengan Kaisar Rumanos dan pasukannya yang berjumlah kurang lebih 200.000 personil dalam Perang Manzikart pada tahun 464 H/1070 M. dengan peperangan dahsyat sepanjang sejarah. Kemenangan Spektakuler ini merupakan titik perubahan penting dalam sejarah Islam. Sebab peristiwa ini telah melemahkan pengaruh Romawi di Asia Kecil yang tak lain adalah wilayah-wilayah strategis kekaisaran Byzantium.
Ketika kekhilafahan Abbasiyah yang beribukota di Baghdad dihancurkan oleh serbuan pasukan Mongolia dibawah pimpinan Hulaku Khan, lahirlah Utsman peletak dasar Khilafah Utsmaniyah. Dengan kekuasaan yang baru lahir dia telah menembus laut Marmarah, dengan bala tentaranya dia telah berhasil mengancam dua kota utama Byzantium kala itu yakni Azniq dan Burshah. Setelah wafatnya Utsman, anaknya yang bernama Orkhan segera memangku kekuasaan, Tahun 727 H/1327M Nicomedia sebuah kota yang berada di barat laut Asia kecil dekat kota Konstantinopel jatuh ditangannya. Sulthan Orkhan sangat peduli untuk merealisasikan apa yang pernah dikabarkan
oleh Rasulullah SAW tentang akan dibukanya Konstantinopel. Dia telah melakukan langkah-langkah strategis untuk melakukan pengepungan terhadap ibukota Byzantium dari sebelah barat dan timur pada saat yang bersamaan, agar bisa merealisasikannya, dia mengirim anaknya yg bernama Sulaiman untuk melintasi selat Dardanil dan memerintahkannya agar menguasai beberapa wilayah di sebelah barat. Tahun 758 H Sulaiman berhasil menyeberangi selat Dardanil pada malam hari bersama empat puluh orang tentara penunggang kuda, tatkala sampai di tepi barat, mereka mengambil alih beberapa kapal milik tentara Romawi yang sedang berada ditempat itu,lalu mereka kembali membawa kapal–kapal ke tepi timur, mengingat tentara Utsmani belum memiliki armada laut sebab kekuasaan mereka baru saja berdiri. Di tepi timur inilah, Sulaiman memerintahkan pasukannya untuk menaiki kapal-kapal itu yang membawa mereka ke pantai Eropa sampai mereka mampu menaklukkan benteng Tarnab, Ghalmabuli yang di dalamnya ada benteng Jana dan Apsala serta Rodestu, semuanya berada di selat Dardanil yang berada diutara dan selatan. Dengan begitu Sulthan Orkhan telah melakukan sebuah langkah penting dan membuka jalan bagi pemimpin yang datang setelahnya untuk menaklukkan Konstantinopel. Di Eropa, tentara Utsmani melakukan futuhat di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Byzantium, Pada tahun 762 H./1360 M., Sulthan Murad I mengusai Adrianople(Edirne), sebuah kota yang sangat strategis di Balkan dan dianggap sebagai kota kedua setelah Konstantinopel oleh Byzantium. Dia menjadikan kota ini sebagai ibukota pemerintahannya sejak tahun 768H./1366M. Pada masa kepemimpinan Sulthan Bayazid I terjadi pengepungan Konstantinopel dgn pasukan yang dipimpinnya sendiri hingga membuat Konstantinopel hampir menemui keruntuhannya. Karena munculnya sebuah bahaya baru (Timur Lenk) yang mengancam pemerintahan Utsmani akhirnya Sulthan Bayazid menarik mundur pengepungan tersebut.
Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al – Fatih Tatkala kekuasaan Utsmani kembali stabil, semangat Jihad kembali berkobar, pada masa pemerintahan Sulthan Murad II beberapakali usaha penaklukkan Kota Konstantinopel dilakukan. Bahkan di masanya pasukan Islam beberapakali mengepung kota ini.
Adalah Sulthan Muhammad Khan (Al-Fatih) putera Sulthan Murad II yang melanjutkan estafet penaklukkan Konstantinopel baik dari ayahnya maupun pendahulunya, Dia berusaha dengan berbagai cara dan strategi diantaranya, memperkuat kekuatan militer Utsmani dari segi kwantitas hingga mencapai 250.000 mujahid. Selain membekali pasukan dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan menggunakan senjata, Dia juga menanamkan semangat Jihad, Sulthan juga mengingatkan mereka akan pujian Rasulullah pada pasukan yang mampu membuka Kota Konstantinopel. Dia selalu berharap, tentara yang dimaksud Rasulullah adalah tentaranya. Hal ini memberikan dorongan moral serta ruhiyyah yang sangat kuat dan tiada tara di seluruh benak
pasukannya. Dia juga memperkuat infrastruktur angkatan perang yang mutakhir dan strategi canggih, dengan membangun benteng Romali Hisyar di wilayah selatan Eropa di selat Bosphorus pada sebuah titik yang paling strategis yang berhadapan dengan benteng yang pernah dibangun pendahulunya yaitu Sulthan Bayazid di daratan Asia. Meski sempat dihalangi oleh Kaisar Romawi dengan ganti uang yang akan dibayarkan pada sulthan, Sulthan tetap menolak dengan tegas. Hingga akhirnya selesailah satu benteng yang demikian tinggi dan sangat aman. Tingginya sekitar 82 meter. Sulthan juga membebaskan tawanan insinyur ahli pembuat meriam yang bernama Orban dari penjara Konstantinopel, jadilah Meriam yang sangat besar (meriam Sulthan Muahammad) memiliki bobot ratusan ton dan membutuhkan ratusan lembu untuk menariknya.
Selain itu, dalam mempersiapkan penaklukan kota Konstantinopel, sulthan memperkuat armada laut Utsmani mengingat Konstantinopel adalah sebuah kota laut, yang tidak mungkin bisa dikepung kecuali dengan menggunakan armada laut. Disebutkan bahwa kapal yang dipersiapkan berjumlah 400 kapal.Meriam meriam besar digerakkan dari Adrianople menuju Konstantinopel dalam jangka waktu dua bulan. Akhirnya pasukan yang dipimpin langsung Muhammad al-Fatih sampai didekat Konstantinople pada hari Kamis tanggal 26 Rabiul Awwal 857 H.(6 April 1453 M). Sulthan Muhammad berpidato di hadapan pasukan dengan berapi-api dan penuh semangat yang memicu pasukan untuk berjihad dan meminta kemenangan pada Allah SWT atau mati syahid. Dalam khutbahnya, Sulthan menjelaskan arti pengorbanan dan keikhlasan dalam berjihad tatkala berhadapan dengan musuh. Dia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi seruan Jihad, sebagaimana ia juga menyebutkan hadits-hadits Rasulullah yang mengabarkan tentang penaklukkan Konstantinopel dan keutamaan prajurit yang membukanya serta keutamaan pimpinan pasukannya. Dia menyebutkan, bahwa dengan dibukanya Konstantinopel berarti akan memuliakan nama Islam dan kaum Muslim. Pasukan Islam saat itu melakukan gempuran dengan membaca Laa Ilaaha Illallah dan Allahu Akbar sebelumnya Muhammad Al-Fatih memimpin do’a dengan khusyu’ kepada Allah SWT untuk kemenangan dia dan pasukannya dalam menaklukkan Konstantinopel.
Saat armada laut Utsmani mengalami kekalahan, yang sebelumnya kaisar Byzantium hampir menyerah dengan negosiasi mengajukan tawaran-tawaran yang ditolak tegas oleh Sulthan, bertambah sulitlah pengepungan yang terjadi menjadi kendur sementara musuh menyusun kekuatan lagi dengan bantuan yang berdatangan dari negara negara eropa yang dikomando oleh paus yang katholik.
Atas ide cemerlang dari sulthan Muhammad Al-Fatih, maka dalam satu malam 70 lebih kapal Utsmani dapat dilabuhkan ke Tanduk Emas melalui jalur darat dengan bebukitan yang tinggi dengan cara yang tidak lazim. Pekerjaan demikian tentu sebuah pekerjaan yang berat dan besar bahkan dianggap sebagai “mukjizat” yang tampak dari sebuah kecepatan berfikir dan kecepatan aksi yang menunjukkan kecerdasan Muhammad Al-Fatih dan ketaatan serta keinginan kuat pasukannya saat itu. Orang-orang Byzantiumpun kaget, tak seorangpun yang percaya atas apa yang telah terjadi. Namun realita yang ada di hadapan mereka membuat mereka shock dan harus mengakui strategi yang sangat jitu tadi. Pada subuh pagi tanggal 22 April, penduduk kota yang lelap itu terbangun dengan suara takbir tentara Islam Utsmani dan genderang serta nasyid-nasyid jihad yang menggema di Tanduk Emas. Salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium menyatakan
“kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya dia jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang Agung,”
Sulthan Muhammad Al-Fatih mengejutkan musuhnya dari waktu ke waktu dengan seni serangan yang selalu berbeda dari segi perang dan pengepungan, seni perang yang dia lakukan merupakan inovasi baru yang belum pernah dikenal sebelumnya. Sedangkan para Ulama’ yang ikut berjihad memberi semangat pada para mujahidin “Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, Rasul singgah di rumah Abu Ayyub Al-Anshari, sedangkan Abu Ayyub Al-Anshari sengaja mendatangi tanah ini dan dia singgah disini”. Ucapan ini membakar semangat pasukan Islam dan menimbulkan gelora jihad yang tinggi. Sampailah Muhammad Al-Fatih sebelum penyerangan umum memberikan pidato kepada pembesar pembesar tentara :
“Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selallu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran”
Adanya seni strategi perang dan peristiwa-peristiwa yang menakjubkan pada pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh Muhammd Al-Fatih akhirnya melemahkan semangat tempur pasukan Byzantium, yang mengakibatkan kekalahan dan takluknya Konstantinopel. Tepat pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Ula 857 H bertepatan tanggal 29 Mei 1453 M, Konstantinopel jatuh dan berhasil ditaklukkkan oleh Sulthan Muhammad Al-Fatih, kemudian dia turun dari kudanya sesudah memberi penghargaan degan ucapannya pada pasukan “MasyaAllah,” “kalian telah menjadi orang-orang yang mampu menaklukkan konstantinopel yang telah Rasulullah kabarkan” baru kemudian dia Sujud kepada Allah di atas tanah, sebagai ungkapan syukur dan pujian serta bentuk kerendahan diri dihadapan-Nya.
Dari kronologis sejarah diatas dapat kita tarik benang lurus bahwa penaklukkan Konstantinopel identik dengan perjuangan menegakkan kembali Khilafah Nubuwwah yang sampai saat ini belum berdiri:
1. Upaya penaklukkan Konstantinopel bisa terwujud karena ada keinginan yang kuat dilakukan secara terus menerus, seakan ada komunikasi dari generasi ke generasi berikutnya serta fokus pada obyek.
2. Penaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih memakai kaidah kausalitas secara sempurna, karena sempurnanya seakan di luar nalar manusia. hal inilah yang membuat musuh menjadi kecil nyalinya.
3. Muhammad Al Fatih, para Sulthan, para Khalifah serta para Shahabat adalah manusia biasa seperti kita, kalau mereka dengan semangat dan keperkasaannya dapat merealisasikan janji Allah dan Rasul-Nya dalam menaklukkan Konstantinopel, maka tiada alasan bagi kita untuk tidak dapat merealisasikan hadits Rasulullah untuk mewujudkan berdirinya Khilafah Islamiyyah
………dan adalah tinggal kita wahai Syabab yang akan merealisasikan hadits Rasulullah SAW “….tsumma takuunu khilafatan ‘ala minhajin nubuwwah” dengan fikrah Islam dan thoriqah Rasulullah sebagai senjata kita, akan segera kita taklukkan atas izin Allah, ideologi Kapitalis yang saat ini sebagai benteng kuat di benak seluruh penguasa kaum muslim, dan kita dirikan diatas puing-puingnya Negara KHILAFAH ISLAMIYAH!!! ALLAHU AKBAR!!!
PUSTAKA
" Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Usmani " Oleh Muhammad As Shalabi
" Wajah Dunia Islam " DR. Muhammad Sayyid Al-Wakil
" Khilafah Bani Umayyah " Joesoef Syuaib
" Khilafah Bani Abbasiyyah" Joesoef Syuaib
Rabu, 01 April 2009
Selayang Pandang Manhaj Kaderisasi 1427 H
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[1] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
Segala puji hanya kepada Allah swt. KepadaNyalah segala pujian, segala pengagungan,dan segala pengampunan. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami sendiri dan rusaknya amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak ada satupun yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya. Tiada rasul sesudahnya.
Setelah sekian lama kami mencoba menyusun dan mempersiapkan sebuah panduan bagi proses pengkaderan, akhirnya keinginan itu dapat kami realisasikan saat ini. Proses yang sedikit berliku dan panjang ini cukup memberi kami inspirasi-inspirasi baru yang sebelumnya tidak kami ketahui. Sebelum lebih jauh menyelami buku ini alangkah baiknya jika kami memberikan beberapa catatan awal untuk memudahkan kita semua mencerna isi buku ini. Catatan awal ini merupakan semacam pengantar bagi siapapun yang akan mengkaji buku ini.
Muslim Negarawan dalam pandangan KAMMI
Dalam sebuah ruangan terjadi diskusi yang hangat. Saat itu semua sedang bertukar pikiran untuk merumuskan orientasi pengkaderan KAMMI. Lingkar kecil itu akhirnya memunculkan satu ide yang kemudian hari lebih kita kenal dengan Muslim Negarawan. Diksi ini menjadi consensus yang dibuat dalam forum tersebut. Hanya saja, pandangan atau tafsir terhadap Muslim Negarawan belum benar-benar disepakati. Forum lanjutan pun dilakukan dalam ruang yang jauh lebih resmi. Bertempat di Sukabumi tepatnya di Situgunung, sebuah tim kecil melakukan pengkajian yang lebih mendalam. Rumusan itulah yang dibawa ke Muktamar KAMMI di Samarinda. Muslim Negarawan pun akhirnya ditetapkan sebagai orientasi kaderisasi nasional.
Paling tidak ada tiga perspektif dalam memberikan pengertian terhadap Muslim Negarawan. Pertama, perspektif filosofi gerakan sebagai nilai-nilai dasar yang menjadi landasan gerakan bagi organisasi. Kedua, persperktif Al Qur’an maupun Sunnah sebagai pijakan dasar bagi seluruh amal islamy. Ketiga, perspektif kekinian atau waqi’iyah. Sehingga sebagai sebuah orientasi kaderisasi, Muslim Negarawan memiliki alasan yang kuat untuk dijadikan sebagai arah yang jelas bagi gerakan.
Dalam perspektif filosofi gerakan, visi gerakan secara tegas mencantumkan visi kepemimpinan sebagai sebuah cita-cita gerakan. Prinsip gerakan KAMMI menjadikan kepemimpinan sebagai strategi perjuangan KAMMI. Dua alasan ini menjadi pijakan dalam perumusan Muslim Negarawan. Sedangkan dalam sudut pandang nash Al Qur’an, KAMMI merujuk pada Qs Al Hajj 41[2]. Ada empat hal yang bisa diambi dalam ayat tersebut. Keempat hal itu antara lain:
· Kesederhanaan dan Kokoh dalam Hubungan Transendental
· Menciptakan Keadilan dan Kesejahteraan Sosial
· Progresif dalam Kebijakan Produktif
· Tegas dalam Kebijakan Preventif
Dalam tinjuan waqi’iyah kita akan mendapati bahwa bangsa dan Negara ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pengebirian selama 30 tahun terhadap potensi pemuda ketika rezim Orde Baru, berdampak pada mandulnya bangsa ini melahirkan generasi yang lebih maju. Saat ini, mencari tokoh-tokoh muda sekaliber Soekarno maupun Natsir dizamannya bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Padahal pemuda adalah rahasia kemenangan sebuah cita-cita dan peradaban. Ketiga perspektif inilah yang digunakan oleh KAMMI untuk menentukan definisi yang jelas terhadap Muslim Negarawan. Dari sinilah Muslim Negarawan dirumuskan sebagai kader KAMMI yang memiliki basis ideology yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang matang, idealis dan konsisten,berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan[3]. Rumusan yang demikian kemudian diwujudkan kedalam enam profil kader KAMMI[4].
Bagaimana Muslim Negarawan akan dicapai oleh KAMMI?
Organisasi pergerakan dan organisasi pada umumnya memiliki kesamaan dalam lapisan bangunannya. Secara umum organisasi tersebut disusun dari empat lapisan, yakni: basis pengambil kebijakan, basis penerjemah gagasan menjadi program, basis pelaksana program dalam bentuk kegiatan, dan basis pelanggan atau subyek yang menikmati acara. Bangunan ini satu sama lain saling menguatkan. Dalam logika gerakan dakwah, bangunan organisasi ini dapat disebut sebagai piramida dakwah. Alasan penyebutan ini lebih pada realitas bahwa bangunan gerakan dakwah disusun oleh kualitas man power gerakan tersebut.
Semakin ke atas semakin sedikit, dan sebaliknya, semakin ke bawah semakin banyak. bahkan rasionya harus seperti segitiga sama sisi, tidak lebar sebelah atau tumpul di bagian atasnya.
Piramida dakwah dibangun oleh unsur-unsur orang yang memiliki peran-peran dominan di dalam lapisannya masing-masing. Berbeda dari sistematika pembahasan lapisan organisasi pergerakan dakwah dengan organisasi lainnya, organisasi pada umumnya dibahas dari puncak piramida, sedangkan piramida dakwah dibahas dari bawah. Lapisan-lapisan itu diurut pembahasannya lebih karena proses pencapaian alami jenjang seseorang yang dilewati dari bawah secara hirarkis ke posisi puncak. “Pasti kamu akan melewati tingkatan demi tingkatan.” (QS. Al-Insyiqaq: 19)[5]
KAMMI merumuskan jenjang kaderisasi KAMMI menjadi tiga lapis. Jenjang yang pertama dalam paling dasar adalah qoidah harakiyah[6] kemudian Qoidah fikriyah[7] dan yang paling tinggi adalah Qoidah Siyasiyah[8].
Pola Umum Kaderisasi
Secara operasional, pola yang dikembangkan oleh KAMMI dimulai dengan dauroh rekrutmen yang lebih dikenal dengan Dauroh Marhalah 1 (DM 1). Proses tersebut berlanjut dengan program Madrasah KAMMI (MK 1) yang memiliki dua pola yaitu klasikal dan khusus (halaqoh). Selain mengikuti MK 1, kader KAMMI eks trainee DM 1 mendapatkan suplemen lain[9]. Setelah itu setiap kader mengikuti proses sertifikasi kader yang akan menentukan kelulusan. Kelulusan ini akan menentukan karier kader dalam marhalah gerakan. Setelah mendapatkan sertifikasi AB 1, maka kader dipersilahkan mengikuti Dauroh jenjang kedua yaitu Dauroh Marhalah 2 (DM 2). Proses yang dilakukan setelah itu mengulang seperti yang jenjang kader 1 (AB 1)[10]. Dan, untuk jenjang yang ketiga, kader akan melewati Dauroh Marhalah 3 (DM 3)[11]. Dengan pola yang demikian, diharapkan seluruh prasyarat-prasyarat yang harus didapatkan seorang kader hingga terwujud profil muslim neragawan dapat dicapai.
Demikian pengantar ini dibuat untuk memudahkan kita semua menelaah dan memahami seluruh isi maupun kandungan dari proses kaderisasi KAMMI , khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tentunya perbaikan dan kritik sangat kami hargai, karena tidak ada satupun ucapan manusia yang luput dari kesalahan selain Rasulullah saw. Biarlah ini menjadi salah satu bukti kesungguhan kami untuk mempersembahkan generasi terbaik disetiap zamannya.
و الله اعلم بالصوب
[1] yaitu melampaui batas-batas hukum yang Telah ditetapkan Allah s.w.t.
[2] (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
[3] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. KAMMI Pusat.
[4] Enam Profil Kader KAMMI yaitu pengetahuan keIslaman,Kredibilas Moral,Wawasan KeIndonesiaan,Kepakaran dan profesionalisme, Kepemimpinan dan Diplomasi dan Jaringan. Lihat Manhaj Kaderisasi KAMMI. Buku 1.
[5] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. Nalar Kaderisasi.
[6] Bina’ al-qo’idah al-harokiyah (membangun basis operasional), yaitu mambangun lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.
[7] Bina’ al-qo’idah al-fikriyah (membangun basis konsep), yaitu membangun kader pemimpin yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia.
[8] Bina’ al-qo’idah al-siyasiyah (membangun basis kebijakan), yaitu membangun kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang.
[9] Suplemen tersebut antara lain; Dauroh Qur’an, Dauroh Ijtima’iyah, Training Keorganisasian, Training Jurnalistik
[10] Suplemen yang didapatkan seorang kader AB 2 yaitu MK 2, Training Kehumasan, Dauroh Siyasi dan Dauroh Ijtima’iyah 2.
[11] Suplemen yang akan didapatkan oleh kader Ab 3 adalah Senior Camp sebelum kader tersebut mendapatkan pengukuhan sebagai kader AB 3.
Selayang Pandang Manhaj Kaderisasi 1427 H
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[1] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
Segala puji hanya kepada Allah swt. KepadaNyalah segala pujian, segala pengagungan,dan segala pengampunan. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami sendiri dan rusaknya amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak ada satupun yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya. Tiada rasul sesudahnya.
Setelah sekian lama kami mencoba menyusun dan mempersiapkan sebuah panduan bagi proses pengkaderan, akhirnya keinginan itu dapat kami realisasikan saat ini. Proses yang sedikit berliku dan panjang ini cukup memberi kami inspirasi-inspirasi baru yang sebelumnya tidak kami ketahui. Sebelum lebih jauh menyelami buku ini alangkah baiknya jika kami memberikan beberapa catatan awal untuk memudahkan kita semua mencerna isi buku ini. Catatan awal ini merupakan semacam pengantar bagi siapapun yang akan mengkaji buku ini.
Muslim Negarawan dalam pandangan KAMMI
Dalam sebuah ruangan terjadi diskusi yang hangat. Saat itu semua sedang bertukar pikiran untuk merumuskan orientasi pengkaderan KAMMI. Lingkar kecil itu akhirnya memunculkan satu ide yang kemudian hari lebih kita kenal dengan Muslim Negarawan. Diksi ini menjadi consensus yang dibuat dalam forum tersebut. Hanya saja, pandangan atau tafsir terhadap Muslim Negarawan belum benar-benar disepakati. Forum lanjutan pun dilakukan dalam ruang yang jauh lebih resmi. Bertempat di Sukabumi tepatnya di Situgunung, sebuah tim kecil melakukan pengkajian yang lebih mendalam. Rumusan itulah yang dibawa ke Muktamar KAMMI di Samarinda. Muslim Negarawan pun akhirnya ditetapkan sebagai orientasi kaderisasi nasional.
Paling tidak ada tiga perspektif dalam memberikan pengertian terhadap Muslim Negarawan. Pertama, perspektif filosofi gerakan sebagai nilai-nilai dasar yang menjadi landasan gerakan bagi organisasi. Kedua, persperktif Al Qur’an maupun Sunnah sebagai pijakan dasar bagi seluruh amal islamy. Ketiga, perspektif kekinian atau waqi’iyah. Sehingga sebagai sebuah orientasi kaderisasi, Muslim Negarawan memiliki alasan yang kuat untuk dijadikan sebagai arah yang jelas bagi gerakan.
Dalam perspektif filosofi gerakan, visi gerakan secara tegas mencantumkan visi kepemimpinan sebagai sebuah cita-cita gerakan. Prinsip gerakan KAMMI menjadikan kepemimpinan sebagai strategi perjuangan KAMMI. Dua alasan ini menjadi pijakan dalam perumusan Muslim Negarawan. Sedangkan dalam sudut pandang nash Al Qur’an, KAMMI merujuk pada Qs Al Hajj 41[2]. Ada empat hal yang bisa diambi dalam ayat tersebut. Keempat hal itu antara lain:
· Kesederhanaan dan Kokoh dalam Hubungan Transendental
· Menciptakan Keadilan dan Kesejahteraan Sosial
· Progresif dalam Kebijakan Produktif
· Tegas dalam Kebijakan Preventif
Dalam tinjuan waqi’iyah kita akan mendapati bahwa bangsa dan Negara ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pengebirian selama 30 tahun terhadap potensi pemuda ketika rezim Orde Baru, berdampak pada mandulnya bangsa ini melahirkan generasi yang lebih maju. Saat ini, mencari tokoh-tokoh muda sekaliber Soekarno maupun Natsir dizamannya bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Padahal pemuda adalah rahasia kemenangan sebuah cita-cita dan peradaban. Ketiga perspektif inilah yang digunakan oleh KAMMI untuk menentukan definisi yang jelas terhadap Muslim Negarawan. Dari sinilah Muslim Negarawan dirumuskan sebagai kader KAMMI yang memiliki basis ideology yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang matang, idealis dan konsisten,berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan[3]. Rumusan yang demikian kemudian diwujudkan kedalam enam profil kader KAMMI[4].
Bagaimana Muslim Negarawan akan dicapai oleh KAMMI?
Organisasi pergerakan dan organisasi pada umumnya memiliki kesamaan dalam lapisan bangunannya. Secara umum organisasi tersebut disusun dari empat lapisan, yakni: basis pengambil kebijakan, basis penerjemah gagasan menjadi program, basis pelaksana program dalam bentuk kegiatan, dan basis pelanggan atau subyek yang menikmati acara. Bangunan ini satu sama lain saling menguatkan. Dalam logika gerakan dakwah, bangunan organisasi ini dapat disebut sebagai piramida dakwah. Alasan penyebutan ini lebih pada realitas bahwa bangunan gerakan dakwah disusun oleh kualitas man power gerakan tersebut.
Semakin ke atas semakin sedikit, dan sebaliknya, semakin ke bawah semakin banyak. bahkan rasionya harus seperti segitiga sama sisi, tidak lebar sebelah atau tumpul di bagian atasnya.
Piramida dakwah dibangun oleh unsur-unsur orang yang memiliki peran-peran dominan di dalam lapisannya masing-masing. Berbeda dari sistematika pembahasan lapisan organisasi pergerakan dakwah dengan organisasi lainnya, organisasi pada umumnya dibahas dari puncak piramida, sedangkan piramida dakwah dibahas dari bawah. Lapisan-lapisan itu diurut pembahasannya lebih karena proses pencapaian alami jenjang seseorang yang dilewati dari bawah secara hirarkis ke posisi puncak. “Pasti kamu akan melewati tingkatan demi tingkatan.” (QS. Al-Insyiqaq: 19)[5]
KAMMI merumuskan jenjang kaderisasi KAMMI menjadi tiga lapis. Jenjang yang pertama dalam paling dasar adalah qoidah harakiyah[6] kemudian Qoidah fikriyah[7] dan yang paling tinggi adalah Qoidah Siyasiyah[8].
Pola Umum Kaderisasi
Secara operasional, pola yang dikembangkan oleh KAMMI dimulai dengan dauroh rekrutmen yang lebih dikenal dengan Dauroh Marhalah 1 (DM 1). Proses tersebut berlanjut dengan program Madrasah KAMMI (MK 1) yang memiliki dua pola yaitu klasikal dan khusus (halaqoh). Selain mengikuti MK 1, kader KAMMI eks trainee DM 1 mendapatkan suplemen lain[9]. Setelah itu setiap kader mengikuti proses sertifikasi kader yang akan menentukan kelulusan. Kelulusan ini akan menentukan karier kader dalam marhalah gerakan. Setelah mendapatkan sertifikasi AB 1, maka kader dipersilahkan mengikuti Dauroh jenjang kedua yaitu Dauroh Marhalah 2 (DM 2). Proses yang dilakukan setelah itu mengulang seperti yang jenjang kader 1 (AB 1)[10]. Dan, untuk jenjang yang ketiga, kader akan melewati Dauroh Marhalah 3 (DM 3)[11]. Dengan pola yang demikian, diharapkan seluruh prasyarat-prasyarat yang harus didapatkan seorang kader hingga terwujud profil muslim neragawan dapat dicapai.
Demikian pengantar ini dibuat untuk memudahkan kita semua menelaah dan memahami seluruh isi maupun kandungan dari proses kaderisasi KAMMI , khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tentunya perbaikan dan kritik sangat kami hargai, karena tidak ada satupun ucapan manusia yang luput dari kesalahan selain Rasulullah saw. Biarlah ini menjadi salah satu bukti kesungguhan kami untuk mempersembahkan generasi terbaik disetiap zamannya.
و الله اعلم بالصوب
[1] yaitu melampaui batas-batas hukum yang Telah ditetapkan Allah s.w.t.
[2] (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
[3] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. KAMMI Pusat.
[4] Enam Profil Kader KAMMI yaitu pengetahuan keIslaman,Kredibilas Moral,Wawasan KeIndonesiaan,Kepakaran dan profesionalisme, Kepemimpinan dan Diplomasi dan Jaringan. Lihat Manhaj Kaderisasi KAMMI. Buku 1.
[5] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. Nalar Kaderisasi.
[6] Bina’ al-qo’idah al-harokiyah (membangun basis operasional), yaitu mambangun lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.
[7] Bina’ al-qo’idah al-fikriyah (membangun basis konsep), yaitu membangun kader pemimpin yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia.
[8] Bina’ al-qo’idah al-siyasiyah (membangun basis kebijakan), yaitu membangun kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang.
[9] Suplemen tersebut antara lain; Dauroh Qur’an, Dauroh Ijtima’iyah, Training Keorganisasian, Training Jurnalistik
[10] Suplemen yang didapatkan seorang kader AB 2 yaitu MK 2, Training Kehumasan, Dauroh Siyasi dan Dauroh Ijtima’iyah 2.
[11] Suplemen yang akan didapatkan oleh kader Ab 3 adalah Senior Camp sebelum kader tersebut mendapatkan pengukuhan sebagai kader AB 3.
Senin, 09 Maret 2009
buku "DAKWAH KAMMI DI TANAH PAPUA"Komentar Tokoh

Rasanya belum lama ketika kami mendiskusikan kemungkinan dibukanya
KAMMI di daerah paling Timur Indonesia (Papua) ini. Dan ternyata, sudah
tujuh tahun ‘sang jabang bayi’ itu kini usianya. Dalam usia yang masih sangat
muda, ternyata KAMMI Papua memiliki Dinamika Gerakan (Hayawiyatul
Harokah) yang luar biasa. Hal ini dapat kita lihat diantaranya dengan hadirnya
buku dihadapan anda ini, yang sekaligus sebagai kado yang sangat indah
dari kader-kadernya pada pertambahan usianya kali ini.
Buku dihadapan anda ini merupakan khasanah pengalaman Dakwah kaderkadernya
selama berkiprah di bumi Papua. Pesan pentingnya adalah nilai Pewarisan
(Taurits) dan Pengembangan (Tathwir). Dua hal ini adalah prasyarat
kelanggengan dan ke-kontinyuitas-an kaderisasi kader-kader KAMMI, yang
juga merupakan pertaruhan keberlangsungan dakwah KAMMI di masa yang
akan datang. Kami berharap dengan hadirnya buku ini dapat memberikan
manfaat yang besar bagi para generasi KAMMI selanjutnya dan bagi Ormasormas
kepemudaan serta kaum muslimin pada umumnya.
Sekjend MITI (Masyarakat Ilmuan & Teknolog Indonesia)
Papua
KAMMI adalah salah satu elemen terpenting yang menggulirkan Reformasi
di Indonesia. Sehingga sangat perlu meluaskan gerakan perjuangannya sampai
di Tanah Papua. Dalam usia 7 Tahun ini, saya mencatat adanya semangat
membara dalam diri teman-teman KAMMI Papua. Dan Buku Catatan Perjalanan
ini adalah bukti, bahwa gerakan anak-anak muda kampus ini adalah
‘Mutiara’, harus dijaga, dikembangkan dan perlu mendapatkan dukungan dari
beragam pihak. Selamat berkarya, kembangkan terus kreasi-kreasi terbarunya.
Wakil Ketua ICMI Orwil Papua & Anggota DPR Papua.
KAMMI Papua dalam hal peran membina moralitas, wahana mengembangkan
diri cukup signifi kan. Oleh karena itu, bisa jadi, KAMMI adalah pilihan bagi
mahasiswa yang berkendahkan menjadi lebih baik dan mengembangkan potensinya.
Selamat berjuang, semoga istiqomah di jalan Da’wah, Amar ma’ruf
nahi munkar.
Mantan Pengurus DPD IMM Prov. Papua & Anggota DPRD
Kota Jayapura
Senin, 23 Februari 2009
Hidup Sekali Mesti Berarti I!
Buku yang merupakan kumpulan dari tulisan penulis ini hanyalah buah dari perenungan dan refleksi pemikiran penulis terhadap berbagai realitas kehidupan yang dihadapi dunia kemanusiaan saat ini. Perenungan terhadap berbagai fenomena kemanusiaan yang menari-nari di berbagai lorong kehidupan individu, sosial, budaya, berbangsa dan keberagamaan kita. Sebuah refleksi yang juga diharapkan mampu menjadi motivasi untuk mendorong penulis dan kemudian kepada para pembaca agar bisa mengarifi hidup dan kehidupan dunia yang fana penuh fatamorgana.
Penulis mencoba berangkat dari risalah bahwa Allah SWT sudah menjadikan manusia dengan sebaik-baik penciptaan. Sebuah keistimewaan yang semestinya bisa membuat kita selalu berpikir dan mentadaburi akan hakikat penciptaan itu. Karena hanya dengan cara itulah kita akan menemukan jalan yang akan mengantarkan kita menjadi semulia-mulia ciptaan yang sesungguhnya.
Dari sanalah tulisan-tulisan ini mencoba memaparkan untuk kemudian mengajak kita berpikir dan sejenak merenung tentang hakikat penciptaan manusia, perjalanan hidup kekinian dan kedisinian manusia bersama kemanusiaannya, serta apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari pelayaran bahtera hidup yang tak pernah henti diarungi makhluk bernama manusia sebagai hamba Allah SWT. Sebuah prosesi yang berangkat dari kejujuran berfikir dan perenungan terhadap realitas kehidupan inilah yang diharapkan mampu membawa kita kepada kesadaran yang sempurna pada hakikat diri sebagai seorang abdi Allah SWT dan sebagai khalifah di muka bumiNya.
Inilah jenak-jenak yang juga diharapkan bisa menjadi “kereta” untuk mengantarkan kembali pada kesadaran terhadap setiap kealpaan sekecil apa pun di saat-saat menjalani aktivitas keseharian. Upaya sejenak menundukkan kepala untuk kemudian bisa menengadah dan memandang dengan terang dimana tujuan bahtera akan dilabuhkan. Kesemuanya itu bermuara pada satu orientasi hidup; hanya mencari dan mengharap Ridho dari Allah SWT.
Sedari risalah tauhid diturunkan, Allah SWT sebagai pencipta bumi seisinya sudah menjelaskan, Dia jadikan manusia dengan sebaik-baik penciptaan dengan tujuan tunggal untuk beribadah kepadaNya. Tidak ada tujuan lain dari beribadah. Sedangkan kehadiran manusia di muka bumi ditegaskan pula bahwa hanya untuk menjadi khalifah yang akan memimpin dan memakmurkan bumi seisinya.
Berkaitan dengan kemampuan, Allah SWT juga menjelaskan pesan yang terang bahwa misi beribadah dan misi kekhalifahan yang diberikanNya itu pastilah sesuai dengan kemampuan yang diberikan kepada hamba-hambaNya. Itu artinya, Allah SWT tidak akan memberikan amanah kekhalifahan di luar kemampuan yang dikaruniakan kepada hamba-hambaNya.
Lebih mendalam lagi Allah SWT memesankan, ketika menjalani amanah hidup dalam keseharian, Dia pun sudah menegaskan bagaimana agar setiap hambaNya menjalani dalam bingkai ketaqwaan dan tidak pernah keluar dari bingkai-bingkai itu. “Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada.” Ini menjelaskan kepada kita bahwa ketaqwaan itu tidak memandang ruang dan waktu, yang berarti pula ketaqwaan itu mesti selalu bersamaan dengan aktivitas keseharian seorang hamba Allah SWT. Apa pun jenis aktivitasnya.
Tidak hanya itu, Allah SWT juga sudah menjanjikan balasan dari setiap amal yang dilakukan oleh hamba-hambaNya. Baik amal baik maupun amalan buruk, semua ada balasannya. Dari situ pula Allah kemudian menjelaskan adanya pahala, adanya syurga dan neraka, ada keberkahan dan ada siksaan yang setiap saat bisa saja datang mengancam. Inilah motivasi dasarnya.
Perjalanan misi mencari dan meraih Ridho untuk berkumpul di syurgaNya nanti, bukanlah jalan mulus tanpa godaan dan cobaan. Dalam konteks ini, tidak ada syurga yang gratis, tidak ada pahala yang gratis dan tidak pula ada nikmat yang gratis. Maka Allah pun mengingatkan bahwa ada makhluk bernama iblis yang akan selalu menggelincirkan, dan di balik itu juga ada keikhlasan yang akan membuat roda selalu ada di atas rel yang diinginkanNya. Maka, hanyalah keikhlasan, ketaqwaan dan kewaspadaan yang istiqomah seorang hambalah yang akan membuatnya tetap bertahan pada jalan yang digariskan Zat yang telah menciptakannya.
Satu hal lagi, kehidupan dunia pasti ada ada akhirnya. Semua akan kembali kepada Allah SWT dan akan dimintai pertanggung jawaban dari semua amanah yang Dia titipkan selama hidup di dunia. Tidak ada yang kekal dan tidak akan ada yang luput dari pertanggung jawaban.
Pembaca yang budiman, buku ini hanya secercah asa yang coba digoreskan penulis untuk membuat dirinya dan (semoga) para pembacanya selalu tersadar akan hakikat penciptaan hanya untuk beribadah, menjalani prosesi kehidupan dengan ketaqwaan yang sesungguhnya serta mengajak kita semua untuk terus menyadari bahwa hanya Allah SWT bersama keridhoanNyalah yang menjadi tujuan kehidupan kita. Semoga bermamfaat dan Allah SWT selalu Ridho atas setiap niat dan amal baik kita.
Sijunjung, Februari 2009
Mamanto Fani



