Senin, 23 Februari 2009

Hidup Sekali Mesti Berarti I!


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rab semesta alam yang telah memberikan petunjuk dan kekuatan kepada penulis hingga terbitnya buku ini. Shalawat beserta salam teruntuk buat Sang junjungan, Nabi Muhammad saw. Semoga kita semua akan masuk dalam barisan panjang beliau di padang mahsyar nantinya. Yakni barisan bersama para Nabi, para syuhada, orang-orang shaleh dan barisan orang-orang yang benar.
Buku yang merupakan kumpulan dari tulisan penulis ini hanyalah buah dari perenungan dan refleksi pemikiran penulis terhadap berbagai realitas kehidupan yang dihadapi dunia kemanusiaan saat ini. Perenungan terhadap berbagai fenomena kemanusiaan yang menari-nari di berbagai lorong kehidupan individu, sosial, budaya, berbangsa dan keberagamaan kita. Sebuah refleksi yang juga diharapkan mampu menjadi motivasi untuk mendorong penulis dan kemudian kepada para pembaca agar bisa mengarifi hidup dan kehidupan dunia yang fana penuh fatamorgana.
Penulis mencoba berangkat dari risalah bahwa Allah SWT sudah menjadikan manusia dengan sebaik-baik penciptaan. Sebuah keistimewaan yang semestinya bisa membuat kita selalu berpikir dan mentadaburi akan hakikat penciptaan itu. Karena hanya dengan cara itulah kita akan menemukan jalan yang akan mengantarkan kita menjadi semulia-mulia ciptaan yang sesungguhnya.
Dari sanalah tulisan-tulisan ini mencoba memaparkan untuk kemudian mengajak kita berpikir dan sejenak merenung tentang hakikat penciptaan manusia, perjalanan hidup kekinian dan kedisinian manusia bersama kemanusiaannya, serta apa sebenarnya yang menjadi tujuan dari pelayaran bahtera hidup yang tak pernah henti diarungi makhluk bernama manusia sebagai hamba Allah SWT. Sebuah prosesi yang berangkat dari kejujuran berfikir dan perenungan terhadap realitas kehidupan inilah yang diharapkan mampu membawa kita kepada kesadaran yang sempurna pada hakikat diri sebagai seorang abdi Allah SWT dan sebagai khalifah di muka bumiNya.
Inilah jenak-jenak yang juga diharapkan bisa menjadi “kereta” untuk mengantarkan kembali pada kesadaran terhadap setiap kealpaan sekecil apa pun di saat-saat menjalani aktivitas keseharian. Upaya sejenak menundukkan kepala untuk kemudian bisa menengadah dan memandang dengan terang dimana tujuan bahtera akan dilabuhkan. Kesemuanya itu bermuara pada satu orientasi hidup; hanya mencari dan mengharap Ridho dari Allah SWT.
Sedari risalah tauhid diturunkan, Allah SWT sebagai pencipta bumi seisinya sudah menjelaskan, Dia jadikan manusia dengan sebaik-baik penciptaan dengan tujuan tunggal untuk beribadah kepadaNya. Tidak ada tujuan lain dari beribadah. Sedangkan kehadiran manusia di muka bumi ditegaskan pula bahwa hanya untuk menjadi khalifah yang akan memimpin dan memakmurkan bumi seisinya.
Berkaitan dengan kemampuan, Allah SWT juga menjelaskan pesan yang terang bahwa misi beribadah dan misi kekhalifahan yang diberikanNya itu pastilah sesuai dengan kemampuan yang diberikan kepada hamba-hambaNya. Itu artinya, Allah SWT tidak akan memberikan amanah kekhalifahan di luar kemampuan yang dikaruniakan kepada hamba-hambaNya.
Lebih mendalam lagi Allah SWT memesankan, ketika menjalani amanah hidup dalam keseharian, Dia pun sudah menegaskan bagaimana agar setiap hambaNya menjalani dalam bingkai ketaqwaan dan tidak pernah keluar dari bingkai-bingkai itu. “Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada.” Ini menjelaskan kepada kita bahwa ketaqwaan itu tidak memandang ruang dan waktu, yang berarti pula ketaqwaan itu mesti selalu bersamaan dengan aktivitas keseharian seorang hamba Allah SWT. Apa pun jenis aktivitasnya.
Tidak hanya itu, Allah SWT juga sudah menjanjikan balasan dari setiap amal yang dilakukan oleh hamba-hambaNya. Baik amal baik maupun amalan buruk, semua ada balasannya. Dari situ pula Allah kemudian menjelaskan adanya pahala, adanya syurga dan neraka, ada keberkahan dan ada siksaan yang setiap saat bisa saja datang mengancam. Inilah motivasi dasarnya.
Perjalanan misi mencari dan meraih Ridho untuk berkumpul di syurgaNya nanti, bukanlah jalan mulus tanpa godaan dan cobaan. Dalam konteks ini, tidak ada syurga yang gratis, tidak ada pahala yang gratis dan tidak pula ada nikmat yang gratis. Maka Allah pun mengingatkan bahwa ada makhluk bernama iblis yang akan selalu menggelincirkan, dan di balik itu juga ada keikhlasan yang akan membuat roda selalu ada di atas rel yang diinginkanNya. Maka, hanyalah keikhlasan, ketaqwaan dan kewaspadaan yang istiqomah seorang hambalah yang akan membuatnya tetap bertahan pada jalan yang digariskan Zat yang telah menciptakannya.
Satu hal lagi, kehidupan dunia pasti ada ada akhirnya. Semua akan kembali kepada Allah SWT dan akan dimintai pertanggung jawaban dari semua amanah yang Dia titipkan selama hidup di dunia. Tidak ada yang kekal dan tidak akan ada yang luput dari pertanggung jawaban.
Pembaca yang budiman, buku ini hanya secercah asa yang coba digoreskan penulis untuk membuat dirinya dan (semoga) para pembacanya selalu tersadar akan hakikat penciptaan hanya untuk beribadah, menjalani prosesi kehidupan dengan ketaqwaan yang sesungguhnya serta mengajak kita semua untuk terus menyadari bahwa hanya Allah SWT bersama keridhoanNyalah yang menjadi tujuan kehidupan kita. Semoga bermamfaat dan Allah SWT selalu Ridho atas setiap niat dan amal baik kita.

Sijunjung, Februari 2009

Mamanto Fani