Rabu, 01 April 2009

Selayang Pandang Manhaj Kaderisasi 1427 H

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[1] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Segala puji hanya kepada Allah swt. KepadaNyalah segala pujian, segala pengagungan,dan segala pengampunan. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami sendiri dan rusaknya amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak ada satupun yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya. Tiada rasul sesudahnya.

Setelah sekian lama kami mencoba menyusun dan mempersiapkan sebuah panduan bagi proses pengkaderan, akhirnya keinginan itu dapat kami realisasikan saat ini. Proses yang sedikit berliku dan panjang ini cukup memberi kami inspirasi-inspirasi baru yang sebelumnya tidak kami ketahui. Sebelum lebih jauh menyelami buku ini alangkah baiknya jika kami memberikan beberapa catatan awal untuk memudahkan kita semua mencerna isi buku ini. Catatan awal ini merupakan semacam pengantar bagi siapapun yang akan mengkaji buku ini.

Muslim Negarawan dalam pandangan KAMMI

Dalam sebuah ruangan terjadi diskusi yang hangat. Saat itu semua sedang bertukar pikiran untuk merumuskan orientasi pengkaderan KAMMI. Lingkar kecil itu akhirnya memunculkan satu ide yang kemudian hari lebih kita kenal dengan Muslim Negarawan. Diksi ini menjadi consensus yang dibuat dalam forum tersebut. Hanya saja, pandangan atau tafsir terhadap Muslim Negarawan belum benar-benar disepakati. Forum lanjutan pun dilakukan dalam ruang yang jauh lebih resmi. Bertempat di Sukabumi tepatnya di Situgunung, sebuah tim kecil melakukan pengkajian yang lebih mendalam. Rumusan itulah yang dibawa ke Muktamar KAMMI di Samarinda. Muslim Negarawan pun akhirnya ditetapkan sebagai orientasi kaderisasi nasional.

Paling tidak ada tiga perspektif dalam memberikan pengertian terhadap Muslim Negarawan. Pertama, perspektif filosofi gerakan sebagai nilai-nilai dasar yang menjadi landasan gerakan bagi organisasi. Kedua, persperktif Al Qur’an maupun Sunnah sebagai pijakan dasar bagi seluruh amal islamy. Ketiga, perspektif kekinian atau waqi’iyah. Sehingga sebagai sebuah orientasi kaderisasi, Muslim Negarawan memiliki alasan yang kuat untuk dijadikan sebagai arah yang jelas bagi gerakan.

Dalam perspektif filosofi gerakan, visi gerakan secara tegas mencantumkan visi kepemimpinan sebagai sebuah cita-cita gerakan. Prinsip gerakan KAMMI menjadikan kepemimpinan sebagai strategi perjuangan KAMMI. Dua alasan ini menjadi pijakan dalam perumusan Muslim Negarawan. Sedangkan dalam sudut pandang nash Al Qur’an, KAMMI merujuk pada Qs Al Hajj 41[2]. Ada empat hal yang bisa diambi dalam ayat tersebut. Keempat hal itu antara lain:

· Kesederhanaan dan Kokoh dalam Hubungan Transendental

· Menciptakan Keadilan dan Kesejahteraan Sosial

· Progresif dalam Kebijakan Produktif

· Tegas dalam Kebijakan Preventif

Dalam tinjuan waqi’iyah kita akan mendapati bahwa bangsa dan Negara ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pengebirian selama 30 tahun terhadap potensi pemuda ketika rezim Orde Baru, berdampak pada mandulnya bangsa ini melahirkan generasi yang lebih maju. Saat ini, mencari tokoh-tokoh muda sekaliber Soekarno maupun Natsir dizamannya bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Padahal pemuda adalah rahasia kemenangan sebuah cita-cita dan peradaban. Ketiga perspektif inilah yang digunakan oleh KAMMI untuk menentukan definisi yang jelas terhadap Muslim Negarawan. Dari sinilah Muslim Negarawan dirumuskan sebagai kader KAMMI yang memiliki basis ideology yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang matang, idealis dan konsisten,berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan[3]. Rumusan yang demikian kemudian diwujudkan kedalam enam profil kader KAMMI[4].

Bagaimana Muslim Negarawan akan dicapai oleh KAMMI?

Organisasi pergerakan dan organisasi pada umumnya memiliki kesamaan dalam lapisan bangunannya. Secara umum organisasi tersebut disusun dari empat lapisan, yakni: basis pengambil kebijakan, basis penerjemah gagasan menjadi program, basis pelaksana program dalam bentuk kegiatan, dan basis pelanggan atau subyek yang menikmati acara. Bangunan ini satu sama lain saling menguatkan. Dalam logika gerakan dakwah, bangunan organisasi ini dapat disebut sebagai piramida dakwah. Alasan penyebutan ini lebih pada realitas bahwa bangunan gerakan dakwah disusun oleh kualitas man power gerakan tersebut.

Semakin ke atas semakin sedikit, dan sebaliknya, semakin ke bawah semakin banyak. bahkan rasionya harus seperti segitiga sama sisi, tidak lebar sebelah atau tumpul di bagian atasnya.

Piramida dakwah dibangun oleh unsur-unsur orang yang memiliki peran-peran dominan di dalam lapisannya masing-masing. Berbeda dari sistematika pembahasan lapisan organisasi pergerakan dakwah dengan organisasi lainnya, organisasi pada umumnya dibahas dari puncak piramida, sedangkan piramida dakwah dibahas dari bawah. Lapisan-lapisan itu diurut pembahasannya lebih karena proses pencapaian alami jenjang seseorang yang dilewati dari bawah secara hirarkis ke posisi puncak. “Pasti kamu akan melewati tingkatan demi tingkatan.” (QS. Al-Insyiqaq: 19)[5]

KAMMI merumuskan jenjang kaderisasi KAMMI menjadi tiga lapis. Jenjang yang pertama dalam paling dasar adalah qoidah harakiyah[6] kemudian Qoidah fikriyah[7] dan yang paling tinggi adalah Qoidah Siyasiyah[8].

Pola Umum Kaderisasi

Secara operasional, pola yang dikembangkan oleh KAMMI dimulai dengan dauroh rekrutmen yang lebih dikenal dengan Dauroh Marhalah 1 (DM 1). Proses tersebut berlanjut dengan program Madrasah KAMMI (MK 1) yang memiliki dua pola yaitu klasikal dan khusus (halaqoh). Selain mengikuti MK 1, kader KAMMI eks trainee DM 1 mendapatkan suplemen lain[9]. Setelah itu setiap kader mengikuti proses sertifikasi kader yang akan menentukan kelulusan. Kelulusan ini akan menentukan karier kader dalam marhalah gerakan. Setelah mendapatkan sertifikasi AB 1, maka kader dipersilahkan mengikuti Dauroh jenjang kedua yaitu Dauroh Marhalah 2 (DM 2). Proses yang dilakukan setelah itu mengulang seperti yang jenjang kader 1 (AB 1)[10]. Dan, untuk jenjang yang ketiga, kader akan melewati Dauroh Marhalah 3 (DM 3)[11]. Dengan pola yang demikian, diharapkan seluruh prasyarat-prasyarat yang harus didapatkan seorang kader hingga terwujud profil muslim neragawan dapat dicapai.

Demikian pengantar ini dibuat untuk memudahkan kita semua menelaah dan memahami seluruh isi maupun kandungan dari proses kaderisasi KAMMI , khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tentunya perbaikan dan kritik sangat kami hargai, karena tidak ada satupun ucapan manusia yang luput dari kesalahan selain Rasulullah saw. Biarlah ini menjadi salah satu bukti kesungguhan kami untuk mempersembahkan generasi terbaik disetiap zamannya.

و الله اعلم بالصوب



[1] yaitu melampaui batas-batas hukum yang Telah ditetapkan Allah s.w.t.

[2] (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

[3] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. KAMMI Pusat.

[4] Enam Profil Kader KAMMI yaitu pengetahuan keIslaman,Kredibilas Moral,Wawasan KeIndonesiaan,Kepakaran dan profesionalisme, Kepemimpinan dan Diplomasi dan Jaringan. Lihat Manhaj Kaderisasi KAMMI. Buku 1.

[5] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. Nalar Kaderisasi.

[6] Bina’ al-qo’idah al-harokiyah (membangun basis operasional), yaitu mambangun lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.

[7] Bina’ al-qo’idah al-fikriyah (membangun basis konsep), yaitu membangun kader pemimpin yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia.

[8] Bina’ al-qo’idah al-siyasiyah (membangun basis kebijakan), yaitu membangun kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang.

[9] Suplemen tersebut antara lain; Dauroh Qur’an, Dauroh Ijtima’iyah, Training Keorganisasian, Training Jurnalistik

[10] Suplemen yang didapatkan seorang kader AB 2 yaitu MK 2, Training Kehumasan, Dauroh Siyasi dan Dauroh Ijtima’iyah 2.

[11] Suplemen yang akan didapatkan oleh kader Ab 3 adalah Senior Camp sebelum kader tersebut mendapatkan pengukuhan sebagai kader AB 3.



[+/-] Selengkapnya...

Selayang Pandang Manhaj Kaderisasi 1427 H

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami[1] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Segala puji hanya kepada Allah swt. KepadaNyalah segala pujian, segala pengagungan,dan segala pengampunan. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami sendiri dan rusaknya amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak ada satupun yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya. Tiada rasul sesudahnya.

Setelah sekian lama kami mencoba menyusun dan mempersiapkan sebuah panduan bagi proses pengkaderan, akhirnya keinginan itu dapat kami realisasikan saat ini. Proses yang sedikit berliku dan panjang ini cukup memberi kami inspirasi-inspirasi baru yang sebelumnya tidak kami ketahui. Sebelum lebih jauh menyelami buku ini alangkah baiknya jika kami memberikan beberapa catatan awal untuk memudahkan kita semua mencerna isi buku ini. Catatan awal ini merupakan semacam pengantar bagi siapapun yang akan mengkaji buku ini.

Muslim Negarawan dalam pandangan KAMMI

Dalam sebuah ruangan terjadi diskusi yang hangat. Saat itu semua sedang bertukar pikiran untuk merumuskan orientasi pengkaderan KAMMI. Lingkar kecil itu akhirnya memunculkan satu ide yang kemudian hari lebih kita kenal dengan Muslim Negarawan. Diksi ini menjadi consensus yang dibuat dalam forum tersebut. Hanya saja, pandangan atau tafsir terhadap Muslim Negarawan belum benar-benar disepakati. Forum lanjutan pun dilakukan dalam ruang yang jauh lebih resmi. Bertempat di Sukabumi tepatnya di Situgunung, sebuah tim kecil melakukan pengkajian yang lebih mendalam. Rumusan itulah yang dibawa ke Muktamar KAMMI di Samarinda. Muslim Negarawan pun akhirnya ditetapkan sebagai orientasi kaderisasi nasional.

Paling tidak ada tiga perspektif dalam memberikan pengertian terhadap Muslim Negarawan. Pertama, perspektif filosofi gerakan sebagai nilai-nilai dasar yang menjadi landasan gerakan bagi organisasi. Kedua, persperktif Al Qur’an maupun Sunnah sebagai pijakan dasar bagi seluruh amal islamy. Ketiga, perspektif kekinian atau waqi’iyah. Sehingga sebagai sebuah orientasi kaderisasi, Muslim Negarawan memiliki alasan yang kuat untuk dijadikan sebagai arah yang jelas bagi gerakan.

Dalam perspektif filosofi gerakan, visi gerakan secara tegas mencantumkan visi kepemimpinan sebagai sebuah cita-cita gerakan. Prinsip gerakan KAMMI menjadikan kepemimpinan sebagai strategi perjuangan KAMMI. Dua alasan ini menjadi pijakan dalam perumusan Muslim Negarawan. Sedangkan dalam sudut pandang nash Al Qur’an, KAMMI merujuk pada Qs Al Hajj 41[2]. Ada empat hal yang bisa diambi dalam ayat tersebut. Keempat hal itu antara lain:

· Kesederhanaan dan Kokoh dalam Hubungan Transendental

· Menciptakan Keadilan dan Kesejahteraan Sosial

· Progresif dalam Kebijakan Produktif

· Tegas dalam Kebijakan Preventif

Dalam tinjuan waqi’iyah kita akan mendapati bahwa bangsa dan Negara ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pengebirian selama 30 tahun terhadap potensi pemuda ketika rezim Orde Baru, berdampak pada mandulnya bangsa ini melahirkan generasi yang lebih maju. Saat ini, mencari tokoh-tokoh muda sekaliber Soekarno maupun Natsir dizamannya bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Padahal pemuda adalah rahasia kemenangan sebuah cita-cita dan peradaban. Ketiga perspektif inilah yang digunakan oleh KAMMI untuk menentukan definisi yang jelas terhadap Muslim Negarawan. Dari sinilah Muslim Negarawan dirumuskan sebagai kader KAMMI yang memiliki basis ideology yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang matang, idealis dan konsisten,berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan[3]. Rumusan yang demikian kemudian diwujudkan kedalam enam profil kader KAMMI[4].

Bagaimana Muslim Negarawan akan dicapai oleh KAMMI?

Organisasi pergerakan dan organisasi pada umumnya memiliki kesamaan dalam lapisan bangunannya. Secara umum organisasi tersebut disusun dari empat lapisan, yakni: basis pengambil kebijakan, basis penerjemah gagasan menjadi program, basis pelaksana program dalam bentuk kegiatan, dan basis pelanggan atau subyek yang menikmati acara. Bangunan ini satu sama lain saling menguatkan. Dalam logika gerakan dakwah, bangunan organisasi ini dapat disebut sebagai piramida dakwah. Alasan penyebutan ini lebih pada realitas bahwa bangunan gerakan dakwah disusun oleh kualitas man power gerakan tersebut.

Semakin ke atas semakin sedikit, dan sebaliknya, semakin ke bawah semakin banyak. bahkan rasionya harus seperti segitiga sama sisi, tidak lebar sebelah atau tumpul di bagian atasnya.

Piramida dakwah dibangun oleh unsur-unsur orang yang memiliki peran-peran dominan di dalam lapisannya masing-masing. Berbeda dari sistematika pembahasan lapisan organisasi pergerakan dakwah dengan organisasi lainnya, organisasi pada umumnya dibahas dari puncak piramida, sedangkan piramida dakwah dibahas dari bawah. Lapisan-lapisan itu diurut pembahasannya lebih karena proses pencapaian alami jenjang seseorang yang dilewati dari bawah secara hirarkis ke posisi puncak. “Pasti kamu akan melewati tingkatan demi tingkatan.” (QS. Al-Insyiqaq: 19)[5]

KAMMI merumuskan jenjang kaderisasi KAMMI menjadi tiga lapis. Jenjang yang pertama dalam paling dasar adalah qoidah harakiyah[6] kemudian Qoidah fikriyah[7] dan yang paling tinggi adalah Qoidah Siyasiyah[8].

Pola Umum Kaderisasi

Secara operasional, pola yang dikembangkan oleh KAMMI dimulai dengan dauroh rekrutmen yang lebih dikenal dengan Dauroh Marhalah 1 (DM 1). Proses tersebut berlanjut dengan program Madrasah KAMMI (MK 1) yang memiliki dua pola yaitu klasikal dan khusus (halaqoh). Selain mengikuti MK 1, kader KAMMI eks trainee DM 1 mendapatkan suplemen lain[9]. Setelah itu setiap kader mengikuti proses sertifikasi kader yang akan menentukan kelulusan. Kelulusan ini akan menentukan karier kader dalam marhalah gerakan. Setelah mendapatkan sertifikasi AB 1, maka kader dipersilahkan mengikuti Dauroh jenjang kedua yaitu Dauroh Marhalah 2 (DM 2). Proses yang dilakukan setelah itu mengulang seperti yang jenjang kader 1 (AB 1)[10]. Dan, untuk jenjang yang ketiga, kader akan melewati Dauroh Marhalah 3 (DM 3)[11]. Dengan pola yang demikian, diharapkan seluruh prasyarat-prasyarat yang harus didapatkan seorang kader hingga terwujud profil muslim neragawan dapat dicapai.

Demikian pengantar ini dibuat untuk memudahkan kita semua menelaah dan memahami seluruh isi maupun kandungan dari proses kaderisasi KAMMI , khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tentunya perbaikan dan kritik sangat kami hargai, karena tidak ada satupun ucapan manusia yang luput dari kesalahan selain Rasulullah saw. Biarlah ini menjadi salah satu bukti kesungguhan kami untuk mempersembahkan generasi terbaik disetiap zamannya.

و الله اعلم بالصوب



[1] yaitu melampaui batas-batas hukum yang Telah ditetapkan Allah s.w.t.

[2] (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

[3] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. KAMMI Pusat.

[4] Enam Profil Kader KAMMI yaitu pengetahuan keIslaman,Kredibilas Moral,Wawasan KeIndonesiaan,Kepakaran dan profesionalisme, Kepemimpinan dan Diplomasi dan Jaringan. Lihat Manhaj Kaderisasi KAMMI. Buku 1.

[5] Manhaj Kaderisasi KAMMI Buku 1. Nalar Kaderisasi.

[6] Bina’ al-qo’idah al-harokiyah (membangun basis operasional), yaitu mambangun lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.

[7] Bina’ al-qo’idah al-fikriyah (membangun basis konsep), yaitu membangun kader pemimpin yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia.

[8] Bina’ al-qo’idah al-siyasiyah (membangun basis kebijakan), yaitu membangun kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang.

[9] Suplemen tersebut antara lain; Dauroh Qur’an, Dauroh Ijtima’iyah, Training Keorganisasian, Training Jurnalistik

[10] Suplemen yang didapatkan seorang kader AB 2 yaitu MK 2, Training Kehumasan, Dauroh Siyasi dan Dauroh Ijtima’iyah 2.

[11] Suplemen yang akan didapatkan oleh kader Ab 3 adalah Senior Camp sebelum kader tersebut mendapatkan pengukuhan sebagai kader AB 3.




[+/-] Selengkapnya...